Seminar Internasional FISIP UIN Bandung Bahas Islam, Pengetahuan Dekolonial, dan Politik Global

Asep Iqbal
5 Min Read

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Seminar Internasional Semester Genap Tahun Akademik 2025-2026 bertajuk “Islam, Decolonial Knowledge, and Global Politics: Reimagining Muslim Societies in a Multipolar World” pada Senin, 20 Juli 2026, di Aula FISIP UIN Bandung.

Seminar yang dilaksanakan oleh Centre for Asian Social Science Research (CASSR) ini menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan hubungan antara Islam, pengetahuan dekolonial, dan dinamika politik global, khususnya dalam memahami serta membayangkan kembali posisi masyarakat Muslim di tengah berkembangnya tatanan dunia multipolar.

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Prof. Ahmad Ali Nurdin, Guru Besar Politik Islam sekaligus Dekan FISIP UIN Bandung; Prof. Julian Millie, Guru Besar Kajian Indonesia di Monash University, Australia; dan Prof. Harun Rasiah, Guru Besar bidang Islam Modern, Pendidikan Islam, Pedagogi Kritis, Dekolonisasi, dan Diaspora Muslim dari California State University, yang sedang menjadi visiting professor di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Pengetahuan Dekolonial dalam Dunia Multipolar

Sebagai pembicara pertama, Prof. Ahmad Ali Nurdin menjelaskan bahwa masyarakat global sedang berada dalam periode transformasi yang signifikan. Perubahan konfigurasi kekuatan dunia dan munculnya berbagai tantangan dalam tatanan multipolar mendorong masyarakat untuk meninjau kembali asumsi-asumsi yang selama ini digunakan dalam memahami kekuasaan, politik, dan peradaban.

Menurutnya, pengetahuan dekolonial penting dikembangkan sebagai kerangka untuk mengidentifikasi dan mengkritisi warisan kolonial yang masih memengaruhi berbagai bidang kehidupan. Pengaruh tersebut tidak hanya ditemukan dalam disiplin akademik, tetapi juga dalam institusi politik, sistem pendidikan, serta representasi umat Islam pada tingkat global.

Pendekatan dekolonial, dengan demikian, memungkinkan para akademisi untuk menilai kembali cara pengetahuan diproduksi, disebarkan, dan dilembagakan. Kerangka ini juga membuka peluang bagi munculnya perspektif yang lebih beragam dalam memahami masyarakat Muslim dan politik global.

Praktik Keagamaan dan Kehidupan Sosial-Politik

Pada sesi berikutnya, Prof. Julian Millie membahas praktik peribadatan umat Islam di Indonesia beserta hubungannya dengan kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan penelitiannya, dimensi praktis dari kehidupan keagamaan masih relatif kurang mendapatkan perhatian dalam kajian akademik dibandingkan dengan pembahasan yang bersifat teoretis dan diskursif.

Padahal, praktik peribadatan umat Islam di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual keagamaan. Praktik tersebut juga berhubungan erat dengan tradisi, relasi sosial, pembentukan identitas, dan dinamika kehidupan masyarakat sehari-hari.

Keterkaitan yang kuat antara ritual dan tradisi bahkan memungkinkan praktik keagamaan turut memengaruhi kehidupan politik. Karena itu, memahami Islam di Indonesia tidak cukup hanya dengan mengkaji doktrin atau wacana keagamaan, tetapi juga perlu memperhatikan bagaimana agama dipraktikkan, dialami, dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Malcolm X dan Dekolonisasi Pengetahuan

Pembicara terakhir, Prof. Harun Rasiah, mengawali pemaparannya dengan merefleksikan perjalanan intelektual Malcolm X, tokoh yang telah menginspirasinya sejak masa remaja. Melalui kisah tersebut, ia menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan pendudukan wilayah, penguasaan politik, dan pemerintahan suatu bangsa oleh bangsa lain.

Kolonialisme juga bekerja melalui apa yang disebut sebagai epistemological colonization atau kolonisasi epistemologis. Bentuk kolonialisme ini berlangsung ketika sistem pengetahuan tertentu mendominasi, mengubah, meminggirkan, atau bahkan menghapus pengetahuan yang hidup dan berkembang dalam suatu masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Malcolm X dipahami sebagai tokoh yang berupaya memperluas cara pandang masyarakat dari perspektif yang berpusat pada Barat menuju perspektif yang lebih global. Upaya ini berkaitan dengan gagasan decentering Europe, yakni menempatkan Eropa bukan lagi sebagai satu-satunya pusat dan standar dalam memahami sejarah, pengetahuan, politik, serta peradaban dunia.

Prof. Harun Rasiah menekankan bahwa dekolonisasi tidak berhenti pada berakhirnya penguasaan kolonial secara fisik. Dekolonisasi juga mencakup usaha membebaskan cara berpikir, sistem pendidikan, dan produksi pengetahuan dari struktur serta sudut pandang kolonial yang masih bertahan.

Memperluas Perspektif tentang Masyarakat Muslim

Seminar internasional ini mempertemukan beragam perspektif mengenai Islam, praktik keagamaan, dekolonisasi pengetahuan, dan politik global. Pembahasan dari ketiga narasumber memperlihatkan bahwa masyarakat Muslim perlu dipahami melalui pendekatan yang luas, kontekstual, dan tidak bergantung pada satu perspektif semata.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana bertukar gagasan dan pengalaman akademik, tetapi juga memperkuat komitmen sivitas akademika untuk mengembangkan kajian Islam dan politik yang kritis, inklusif, serta relevan dengan perubahan global.

Melalui seminar tersebut, peserta diajak memahami bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang statis. Pengetahuan terus berkembang melalui proses dialog, kritik, dan perjumpaan antarperspektif. Oleh karena itu, kajian terhadap pengetahuan masa lalu, realitas masa kini, dan kemungkinan masa depan menjadi semakin penting dalam merumuskan posisi serta kontribusi masyarakat Muslim di tengah tatanan dunia multipolar.

Penulis: Argana
Editor: AM Iqbal

Share This Article