Kang Dedi Mulyadi: A Leader of Hope?

Asep Iqbal
9 Min Read
Kang Dedi Mulyadi Pemimpin Harapan?

Usai sudah pelantikan kolektif kepala daerah hasil Pemilihan Kepala Daerah 2024 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta (pikiran-rakyat.com, 20 Februari 2025). Dari 961 kepala daerah yang dilantik, terdapat Dedi Mulyadi sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat dan wakilnya Erwan Setiawan. Dalam konteks ini, warga Jawa Barat perlu menyambut momen penting ini dengan beberapa catatan untuk memahami kemunculan Kang Dedi sebagai orang nomor satu di provinsi dengan penduduk terbanyak ini dan lebih penting lagi menitipkan harapan rakyat untuk diwujudkan sekaligus menagih janji saat kampanye.

Kemenangan telak Kang Dedi menandai perubahan signifikan dalam dinamika politik di Provinsi Jawa Barat. Sejauh ini, kemenangannya merupakan kemenangan terbesar yang pernah diraih oleh kontestan dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat, apalagi dalam pemilihan yang diikuti oleh empat pasangan kandidat gubernur-wakil gubernur. Melalui ketetapan Komisi Pemilihan Umum Daerah Jawa Barat pada 9 Januari 2025, Kang Dedi beserta wakilnya Erwan Setiawan mendapatkan kepercayaan sangat luas dari masyarakat Jawa Barat dengan meraih 62,22% (14.130.192) suara. Raihan suara ini jauh melampaui raihan tiga pasangan lainnya di mana Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie memperoleh 18,76 % (4.260.072) suara, sementara Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina  dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja masing-masing meraih 9,71% (2.204.452) suara dan 9,32% (2.116.017) suara. Tanpa mengabaikan kontribusi Erwan Setiawan, raihan suara yang luar biasa ini menunjukkan daya tarik Kang Dedi yang luas di berbagai kelompok demografi dan sosial-ekonomi di Jawa Barat.

Kemenangan Kang Dedi sejatinya bukan sekadar janji kampanye, tetapi lebih dari itu, ia mewujudkan aspirasi masyarakat Jawa Barat. Ia memposisikan dirinya sebagai pemimpin harapan, yakni sosok yang memahami suara hati rakyat banyak, menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Sunda, dan berusaha menjembatani kearifan tradisional dengan tata kelola modern. Tulisan ini akan melihat keberhasilan Kang Dedi melalui perspektif hope paradigm, mengeksplorasi apa yang menjadikan seseorang sebagai a leader of hope, dan menilik apakah Kang Dedi memenuhi kriteria tersebut.

Hope Paradigm

Dalam kepemimpinan politik, menurut Kaye A. Herth, hope paradigm (paradigma harapan) mengacu pada model kepemimpinan yang autentik, berani dan berbasis harapan yang mampu menginspirasi optimisme, memberikan rasa aman, dan mewujudkan aspirasi rakyat.  Kepemimpinan seperti ini  tidak hanya bertahan dalam tantangan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang penuh harapan, memberdayakan individu, dan mendorong pertumbuhan bersama.

Hope paradigm melahirkan hope leadership, yakni kepemimpinan harapan yang berbeda dari dan melampaui populisme yang sering mengeksploitasi ketidakpuasan rakyat tanpa solusi jangka panjang. Kepemimpinan harapan bersifat proaktif, visioner, dan berakar kuat pada kebutuhan masyarakat. Kepemimpinan harapan tidak hanya bereaksi terhadap krisis, tetapi juga menawarkan visi yang jelas dan dapat diwujudkan, sehingga masyarakat percaya pada masa depan yang lebih baik. Hope paradigm dan hope leadership ini sangat penting di masa ketidakpastian politik, kesulitan ekonomi, atau pergeseran budaya, dan saat masyarakat mencari pemimpin yang mampu memulihkan kepercayaan dan persatuan.

Kriteria Leader of Hope

Dalam perspektik hope paradigm, bila seseorang memiliki kriteria utama hope leadership (kepemimpinan harapan), maka ia akan menjadi a leader of hope (pemimpin harapan), pemimpin yang diharapkan dan ditunggu-tunggu oleh rakyat yang akan membawanya kepada kemenangan dalam kontestasi politik. Hope leadership memiliki beberapa karakteristik utama yang menjadi landasan dalam kepemimpinan yang menginspirasi dan memberdayakan masyarakat.

Pertama, autentik dan terlibat dengan akar rumput. Seorang leader of hope memiliki cara pikir, tata ucap dan perilaku autentik dan mandiri yang menjadi ciri keasliannya, serta tidak terlalu peduli dengan citra. Ia tidak hanya mengandalkan birokrasi formal, tetapi juga terhubung langsung dengan masyarakat, mendengar aspirasi mereka, serta berinteraksi secara aktif dengan berbagai komunitas.

Kedua, visi pembangunan inklusif.  Seorang leader of hope fokus pada pertumbuhan ekonomi yang merata, pembangunan infrastruktur yang berkeadilan, serta kebijakan sosial yang tidak hanya menguntungkan kaum elit, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

Ketiga, komitmen terhadap budaya dan lingkungan. Ciri utama pemimpin yang membawa harapan adalah ia menghormati dan melestarikan kearifan lokal, sembari memastikan bahwa kebijakan pembangunan tetap berlanjut, tetapi berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Keempat, konsistensi dalam etika politik. Rekam jejak leader of hope menunjukkan kesinambungan antara ucapan dan tindakan, antara janji yang diutarakan dan implementasi kebijakan yang dilakukan.

Terakhir, simbol representasi masyarakat. Pemimpin yang membawa harapan berfungsi sebagai simbol representasi rakyat, mencerminkan perjuangan dan aspirasi rakyat kecil, sehingga mereka merasa suara dan kepentingannya benar-benar diperjuangkan oleh pemimpinnya.

Kang Dedi Sebagai Leader of Hope

Sejauh yang bisa diamati, gaya politik, kebijakan, dan keterlibatan publik Kang Dedi mencerminkan karakteristik seorang leader of hope. Berbeda dengan banyak politisi yang bergantung pada citra media yang dikonstruksi, KDM dikenal dengan karakter orisinalnya melalui interaksi langsungnya dengan masyarakat. Kehadirannya di media sosial memperlihatkan pendekatan langsung dan cepat dalam menangani permasalahan warga dan mengadvokasi isu lingkungan. Sikapnya yang ramah serta keterbukaannya terhadap warga desa, petani, dan pedagang kecil menjadikannya pemimpin yang lebih mendengar daripada sekadar memerintah.

Dalam aspek pembangunan, Kang Dedi memiliki visi yang inklusif dengan menekankan pemerataan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan di seluruh Jawa Barat, di perkotaan dan daerah pedesaan yang sering terabaikan melalui program “lembur diurus, kota ditata”. Kampanyenya berfokus pada pengurangan kesenjangan ekonomi serta penguatan ekonomi inklusif yang mendorong pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Selain itu, sebagai seorang pembela budaya Sunda dalam pikir, ucap dan laku, Kang Dedi aktif mempromosikan kekayaan kearifan lokal Sunda agar kebijakan pembangunan modern tetap selaras dengan nilai-nilai tradisional yang luhur. Aktivismenya dalam konservasi hutan, sungai dan pengelolaan sampah serta lainnya menegaskan dedikasinya terhadap pembangunan berkelanjutan.

Dari segi etika politik dan konsistensi kebijakan, Kang Dedi memiliki rekam jejak yang solid. Selama menjabat dua periode sebagai Bupati Purwakarta (2008–2018), ia berhasil mengimplementasikan kebijakan yang berdampak nyata dalam tata kelola daerah. Kepemimpinannya ditandai dengan inisiatif yang mengintegrasikan budaya Sunda ke dalam pendidikan, infrastruktur, dan layanan publik. Keputusannya untuk meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Gerindra pada 2023 mencerminkan langkah strategisnya dalam mencari platform kepemimpinan yang lebih sejalan dengan visinya, tanpa meninggalkan kebijakan pro-rakyatnya.

Sebagai seorang pemimpin, Kang Dedi juga menjadi simbol representasi masyarakat. Latar belakangnya yang sederhana dan gaya hidupnya yang membumi mencerminkan perjuangan rakyat kebanyakan di Jawa Barat. Kemampuannya untuk terhubung langsung dengan pengalaman sehari-hari masyarakat, tanpa terkesan sebagai elit yang berjarak, semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin yang membawa harapan bagi rakyat.

Akankah Kepemimpinan Harapan Menjelma Perubahan Nyata?

Keberhasilan besar Kang Dedi dalam pemilihan gubernur Jawa Barat menunjukkan kemenangan kekuatan kepemimpinan yang berbasis harapan dalam politik kontemporer.  Meskipun kepemimpinannya memiliki basis solid sebagai leader of hope, ujian sejatinya terletak pada pelaksanaan kebijakan. Banyak pemimpin berhasil membangun harapan saat kampanye, tetapi gagal mewujudkannya dalam tindakan konkret. Jika harapan hanya menjadi visi abstrak tanpa kebijakan yang efektif, optimisme publik bisa berubah menjadi kekecewaan. Kepemimpinan harapan yang berkelanjutan memerlukan pendekatan pemerintahan yang terstruktur agar janji kampanye dapat diwujudkan dalam bentuk perbaikan nyata.

Pemerintahan Kang Dedi dalam lima tahun ke depan di Jawa Barat meniscayakan penerjemahan semua karakter leader of hope yang dimilikinya ke dalam perubahan nyata dalam pembangunan infrastruktur, pemerataan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan agar kepercayaan dan harapan publik tetap terjaga. Tanpa tindakan nyata, kepemimpinannya berisiko dianggap sekadar simbolis, bukan substantif atau hanya citra, bukan realita.

Warisan Kang Dedi akan ditentukan oleh kemampuannya mengubah aspirasi menjadi pencapaian nyata. Jika ia tetap berkomitmen pada visinya tentang pembangunan inklusif, keberlanjutan lingkungan, dan keterlibatan akar rumput, ia memiliki potensi untuk mereformasi tata kelola di Jawa Barat. Untuk mempertahankan kredibilitas kepemimpinannya, ia harus memastikan pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan berorientasi pada hasil. Jika ini berhasil, maka gelar sebagai a leader of hope layak disandangkan kepada Kang Dedi. Lebih jauh, ia tidak hanya akan dikenang sebagai pemimpin harapan, tetapi juga sebagai pemimpin perubahan nyata yang membawa dampak positif jangka panjang bagi kemajuan masyarakat.

Asep Muhamad Iqbal, Ph.D.

Dosen FISIP UIN Bandung; Director, Centre for Asian Social Science Research (CASSR), FISIP, UIN Bandung

Pikiran Rakyat, 6 Maret 2025 https://www.pikiran-rakyat.com/kolom/pr-019127499/gubernur-jabar-dedi-mulyadi-a-leader-of-hope?page=all

Share This Article