Bandung, 20 November 2025 — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali menyelenggarakan Forum Dosen FISIP (FDF) edisi ke-33 dengan mengangkat tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berkelanjutan.” Acara ini digelar di Aula Utama FISIP dan menghadirkan dua peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yaitu Dr. Hari Harjanto Setiawan dan Dr. Emma Rahmawati. Forum dipandu oleh Monica Sundawati Susanto, M.Kesos., dan dihadiri dosen serta mahasiswa yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan II FISIP, Dr. Faisal Fikri, M.Ag., setelah sebelumnya diawali sambutan dari Direktur CASSR, Dr. Asep Muhammad Iqbal, Ph.D., yang menegaskan bahwa forum ilmiah seperti FDF merupakan ruang kolaboratif untuk mempertemukan riset, pengembangan ilmu sosial, dan kebutuhan nyata masyarakat desa. Melalui kegiatan ini, FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus berupaya memperkuat sinergi antara akademisi, peneliti, serta pemangku kebijakan dalam mempercepat transformasi desa-desa di Indonesia.
Pada sesi pertama, Dr. Hari Harjanto memaparkan bagaimana BRIN melalui Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas telah lebih dari tiga tahun mengkaji isu-isu strategis pedesaan, mulai dari transformasi digital desa, pengembangan model ekonomi lokal, hingga penguatan kelembagaan desa. Ia menekankan bahwa pemberdayaan desa tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi multipihak. Tantangan yang sering muncul mencakup model bisnis desa yang tidak sesuai dengan konteks lokal, lemahnya kelembagaan seperti BUMDes, minimnya inovasi yang berkelanjutan, hingga rendahnya dokumentasi dan replikasi praktik baik dari desa-desa yang berhasil. Melalui hasil riset yang telah dilakukan, BRIN menegaskan pentingnya memperkuat inovasi, menata ulang model bisnis yang adaptif, serta membangun ekosistem pembinaan yang terstruktur agar pemberdayaan desa benar-benar berdampak jangka panjang.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Emma Rahmawati, yang menguraikan konsep pemberdayaan masyarakat desa berbasis kekuatan dan potensi lokal. Ia menekankan bahwa pemberdayaan tidak semata-mata meningkatkan kemampuan masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa proses tersebut sejalan dengan kebutuhan nyata desa. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tahapan pemberdayaan berkelanjutan, mulai dari engagement, assessment, perencanaan, implementasi, hingga evaluasi dan scale-up program. Dr. Emma menegaskan pentingnya penguatan kapasitas, pemanfaatan aset lokal, serta pelibatan masyarakat secara partisipatif dari awal hingga akhir proses. Ia juga memaparkan sejumlah studi kasus pengelolaan BUMDes dan praktik kolaborasi multipihak, termasuk contoh Desa Taro di Gianyar, Bali, yang mampu mengelola sampah melalui model partisipatif yang melibatkan perempuan desa, kader kebersihan, pemuda, hingga perguruan tinggi. Contoh tersebut menunjukkan bagaimana penguatan kelembagaan, kolaborasi lintas sektor, dan pemanfaatan aset lokal dapat membawa desa pada pencapaian indikator SDGs Desa secara konsisten.
Diskusi dalam forum berlangsung dinamis, membahas berbagai isu mulai dari peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan desa, strategi memperkuat kelembagaan lokal, pengembangan BUMDes berbasis model bisnis yang adaptif, hingga pentingnya pelibatan perempuan dan pemuda dalam pembangunan desa. Para peserta forum memberikan pertanyaan dan tanggapan yang memperkaya pembahasan, menunjukkan tingginya perhatian sivitas akademika FISIP terhadap isu pembangunan pedesaan.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan harapan bahwa kerja sama antara FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung, BRIN, dan pemerintah daerah dapat terus ditingkatkan. Melalui FDF #33, CASSR menegaskan komitmennya untuk menghadirkan riset dan forum akademik yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.